convince myself to be the tittle. 

Kenapa hanya “saat ini”?

Seberapa cepat, sih, waktu yang terasa? Jika memang waktu sudah punya durasinya sendiri, kenapa ada waktu-waktu yang terasa cepat ataupun lambat? Bahkan hampir tak terasa cepat dan lambatnya. Tau-tau… berlalu begitu saja.

Di beberapa tulisan sebelumnya, gue pernah menjelaskan perasaan gue betapa lambatnya langkah gue di dunia yang cepat ini. Namun, sekarang gue merasa segala hal yang gue lalui begitu cepat. Gue merasa terlalu cepat melangkah dan terlalu cepat menyerah. Kelelahan yang gue rasakan juga cepat timbul.

Rasa ingin marah terhadap diri sendiri sudah pasti ada. Tapi, Tuhan seakan-akan mengirim beberapa hal yang membuat gue cukup reda akan amarah gue dengan cepat. Kalau dipikir kembali, marah dengan diri sendiri itu tidak ada gunanya karena sebenarnya hal yang terpenting saat ini, ya, hanyalah “saat ini”.

Kenapa hanya “saat ini”?

Terkadang, gue merasa terlalu larut dengan masalah yang gue buat di masa lalu. Tentu hal ini terjadi dengan sangat sering dan berulang serta berlanjut di keesokan harinya. Alhasil, di saat gue sadar gue sudah terlalu jauh, gue sadar bahwa hal-hal “saat ini” tidak gue nikmati dengan sungguh. Seperti ingin menyebrang namun tidak melihat kanan dan kiri bak memakai kacamata kuda. Gue kurang menyadari hal-hal yang sebenernya bisa gue nikmati lebih. Dari sini terlihat kalau menyesal adalah salah satu dampaknya.

Gue menyesal telah melewatkan waktu-waktu untuk mendengar cerita lawan bicara gue dengan lebih bersungguh-sungguh. Terlalu fokus dengan tanggapan lawan bicara gue terhadap diri gue sendiri dibanding dengan lawan bicara gue yang ternyata sedang butuh perhatian lebih. Gue juga menyesal karena terlalu fokus terhadap dampak apa yang disebabkan karakter gue terhadap lawan bicara gue dibanding karakter mereka yang gue masih kurang dalam untuk memahaminya. Akhirnya ketika mereka sudah lelah menjadi lawan bicara gue, yang gue dapatkan hanya keheningan yang gue buat karena terlalu fokus dengan diri sendiri. Kenangan? Tentu banyak yang terlewat.

Kejadian ini membuat gue sedikit terpuruk untuk saat ini. Kecepatan untuk mengambil asumsi membuat gue terlalu lambat untuk mengenal karakter seseorang. Kecepatan untuk membuat segala sesuatunya sesuai dengan kemauan gue, memperlambat gue untuk belajar bahwa semuanya itu tidak selalu harus seturut dan sejalan dengan apa yang gue mau. Banyak yang hilang dengan sangat cepat namun yang baru datang sangat sedikit, itupun juga lambat.

Apakah ini akan berakhir?

Pertanyaan yang sama akan terus ditanya berulang-ulang ketika kita mulai merasa lelah. Apa yang kita mulai, pasti ada aja masalah yang timbul. Kadang kalau di tengah-tengah perjalanan yang udah kita mulai lalu timbul perasaan lelah itu, pasti tanpa sadar kita bertanya dalam hati, apakah ini akan berakhir?

Tahun 2020 sudah jelas akan berakhir. Begitu juga dengan masa kalender-kalender yang ada di rumah kita pun akan berakhir. Dengan itu, gue harus mencari kalender 2021 yang baru untuk persiapan tahun baru. Mempersiapkan kalender tahun 2021 bisa dikatakan adalah hal yang mudah. Gue bisa langsung beli di toko terdekat atau memesannya melalui pemesanan daring lewat berbagai macam aplikasi yang ada. Harga yang murah juga mempermudah gue atau orang lain untuk memiliki kalender baru. Seandainya untuk mempersiapkan diri terhadap pergantian tahun bisa semudah itu, mungkin jiwa dan raga gue saat ini ngga akan terlalu berat untuk bangun pagi besok.

Belakangan ini gue merasa kalau hari hanyalah berganti hari. Ya, memang hari. Mau apa lagi? Tapi hari-hari buat gue hanyalah sekedar hari. Siang bertemu matahari. Malam bertemu bulan, itupun kalau gue sedang beruntung karena awan mendung sedang asik-asiknya berkunjung. Hidup gue terasa ada yang berkurang meskipun rasa gue ngga ada yang hilang, malah bertambah. Kalau di pagi hari gue bisa merasakan kesenangan, di penghujung hari gue bisa merasakan kekosongan. Aneh, sih. Namun, apa yang gue rasakan itu valid. Haha.. gue selalu inget kata-kata salah satu sahabat gue yang selalu mengingatkan gue akan satu hal, “manusia punya perasaan. Apa yang lo rasain memang ada. Lo harus terima perasaan yang lo rasain sekarang karena perasaan lo itu nyata.” Perkataan itulah yang sebenernya membuka mata gue secara, apa ya, ekstrim, lah, kalau itu bisa dijadikan sebagai sebuah ungkapan. Fakta bahwa tahun 2020 memang bajingan, benar-benar membuat gue bungkam atas perasaan gue sendiri. Bahkan perasaan gue ke orang lain.

Di tahun ini gue banyak belajar caranya untuk menghadapi diri gue sendiri. Karena adanya pandemi, bercengkrama secara langsung dan rutin itu hanyalah mitos belaka. Semua rencana cuma wacana. Semua warga dituntut sama keadaan dimana kita semua harus nurut agar pandemi cepat berakhir. Di luar itu, gue merasa gue jadi gagap akan hal berkomunikasi. Biasanya, untuk berbicara dan menatap mata lawan bicara adalah hal-hal yang mudah buat dilakukan. Semenjak gue berdiam di rumah, seperti ada saraf komunkasi yang error di tubuh gue. Mungkin kalau dibayangkan akan terdengar berlebihan tapi itulah yang bisa gue kasih gambarannya. Selebihnya adalah tubuh saja yang melangkah berjalan dan bergerak melakukan sesuatu seakan-akan jiwa dan raga gue tertinggal di bulan Januari tahun 2020.

Mengutarakan perasaan gue terhadap orang lain saat ini bisa dibilang semu. Gue masih belum bisa membedakan perasaan yang sesungguhnya. Perasaan dalam konteks ini bukan hanya cinta tetapi juga dengki, kesal, senang, dan lain-lain. Menuju akhir tahun, gue sering kali menemui beberapa teman gue secara bergantian. Minggu pertama bertemu dengan si A, minggu kedua dengan si B, dan seterusnya. Maklum aja, ya, soalnya gue masih nganggur, hehe. Entah kenapa gue merasa akan lebih masuk akal kalau gue menemui mereka satu persatu. Untuk sekarang ini, menemui mereka semua secara langsung membuat gue harus punya persiapan yang lebih besar, contohnya energi. Tubuh ini semakin lelah dan letih bagaikan tubuh manula kalau-kalau akan bertemu banyak orang. Dengan gue menemui teman-teman gue satu persatu, gue mulai mengumpulkan beberapa pelajaran baru lagi yang membuat gue detik per detik kembali utuh juga dapat mengutarakan perasaan gue terhadap seseorang atau sesuatu.

Sebenarnya, untuk menyimpulkan tulisan ini saja, gue masih kebingungan. Banyak poin plus dan minusnya. Gue bisa mengenal diri gue sendiri dengan lebih jauh tapi gue juga tidak bisa menjelaskan kenapa semakin hari, hari-hari gue terasa kosong. Gue juga sebenarnya masih ragu apakah salah satu cara membuat diri ini bangkit adalah quality time dengan teman atau kita cari tau jawabannya sendiri? Kadang sendirian terus juga kurang baik tapi terlalu sering mengikut arahan teman juga tidak terlalu bagus. Ah, entahlah, mungkin tahun 2021 bisa menjelaskannya. Daripada siklus tanya-bertanya tersebut ngga ada habisnya, lebih baik mempersiapkan diri untuk menghadapi pergantian tahun dengan harap diri ini akan lebih tau caranya untuk lebih hidup lagi karena pada dasarnya mempersiapkan diri yang baru itu lebih sulit daripada mempersiapkan kalender yang baru. Ya, ngga?

Arah yang mana, ya?

Pernah ga, sih, kalian ngerasain apa yang seharusnya dilakukan tapi ga mendapat dukungan? Atau pernah ga kalian ga melakukan sesuatu padahal kalian merasa kalian ga perlu melakukan itu dan seharusnya melakukan yang lebih penting dan sifatnya darurat?

Gue sedih, gue marah, gue kecewa dengan keadaan dan diri gue sendiri. Gue tau seharusnya seorang pribadi manusia tidak diperbolehkan untuk berpikiran seperti itu. Tapi gue merasa terserat meskipun setiap pandangan gue menemukan petunjuk arah. Jangan salah. Banyak arah bukan berarti bisa selamat gitu aja. Sepertinya, gue telah mengambil arah yang salah.

Pada awalnya arah-arah yang gue temui terlihat cukup jelas dan mudah dibedakan. Semakin lamanya hari berlalu, tiba-tiba kesadaran dalam memilih arah mulai memudar. Gue mengambil satu arah yang menurut gue paling jelas. Dari awal perjalanan, gue sudah mengingatkan diri gue kalo arah ini tidak akan mudah. Semua arah pun juga tidak mudah.

“Oke, apapun itu, gue siap.” Kata gue pada diri sendiri.

Kesiapan itu gue harap bertahan lama. Entahlah. Mungkin sekarang belum akhir karena gue merasa harapan ini semakin kendur dan berat untuk ditahan. Gue ga bisa berbuat apa-apa. Sedikit merasa mellow, sih. Terus terang, pekerjaan gue yang lainnya terganggu. Tapi gue bisa apa? Detik ini gue terus teringat tentang kata-kata influencer yang sudah menjelajah dunia bagian barat, “kalau lo kerja ngikutin mood, lo bakal hancur” ya.. kurang lebih seperti itu pesannya.

Stuck.

Susah.

Bahkan untuk lanjut menulis ini aja sangat susah buat gue saat ini. Apalagi gue mau memulai penulisan skripsi? Kabar baiknya, pembimbing gue siang tadi dengan baik hati memberikan banyak referensi terkait topik gue. Di saat gue sudah berencana untuk memulai berkata-kata di halaman depan skripsi, kabar buruk pun datang. Ini titik dimana gue bisa mengatakan kalau gue salah mengambil arah. Sebenernya gue tidak mau terpengaruh dengan kabar itu. Mungkin karena setiap orang diciptakan berbeda-beda, reaksi orang juga berbeda-beda apalagi saat meresponnya. Gue terlalu lemah buat dunia yang banyak arah.

Where’s the ‘nice’ in a 'nice try’?

Tapi, sampai kapan?

Seru, ya, rasanya ketika kita curhat dengan seseorang untuk meluapkan kegelisahan dan mencari solusi atau saran yang memungkinkan kita untuk menyelesaikan masalah yang kita punya namun hanya mendapatkan jawaban yang tidak diharapkan. Tidak berhenti sampai di situ, kita pasti mencari orang lain dan berharap mendapatkan jawaban yang lebih bermutu. Apabila masih kurang puas, pasti kita akan mencarinya lagi sampai kita merasa bahwa jawaban itulah yang kita inginkan. Tapi, sampai kapan kita akan bertahan dengan mencari-cari jawaban yang tidak pasti?

Belakangan ini gue merasa bahwa semua yang bergerak di sekitar gue itu sangatlah cepat. Gue bagaikan pelaku stop motion yang disekelilingi oleh orang-orang yang lalu lalang tak kasat mata karena terlalu cepat bergerak. Gue juga sempat merasa bahwa gue adalah seseorang yang belajar dengan lambat dan membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih ekstra dibanding orang-orang lainnya. Sedihnya, gue belum menemukan keuntungan dari situ.

Hari berlanjut tapi kemampuan untuk belajar lebih cepat belum kunjung terasa. Entah kesalahan apa yang pernah gue perbuat di kehidupan sebelumnya atau kurangnya air asi yang dulu diberikan oleh nyokap gue, gue selalu bertanya-tanya. Memang betul kata para orang dewasa yang pernah gue temui, masih banyak yang semakin berumur namun jiwa mereka enggan untuk berumur juga. Gue ngerasa, kok, kewajiban gue sebagai gadis berkepala 2 semakin bertambah dan ya… gue ga bisa menolaknya dan pergi ke tempat baru dengan mengganti identitas. Sangat disayangkan hal itu hanya terjadi di novel atau di televisi. Bertanya-tanya dan bertanya-tanya, gue tidak hanya bertanya pada diri sendiri. Gue juga bertanya kepada Tuhan. Gue bertanya kepada teman-teman gue dengan basa-basi tentunya agar tetap dilihat bahwa gue tidak apa-apa. Gue bertanya, “apa salah gue? apakah yang gue berikan tidak cukup?”.

Sebenernya gue takut. Tapi, sampai kapan?

Sedikit cerita, gue terlahir di keluarga yang melihat dari luarnya saja sudah bisa menilai yang di dalamnya. Menurut gue itu tidak terlalu benar, sih. Contohnya, jika gue membuka laptop dan mulai mengetik, bokap gue akan berasumsi kalau gue sedang mengerjakan tugas. Padahal yang gue buat hanyalah satu tautan untuk ketikan ini. Selain itu, kalo gue terlihat biasa saja dan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa meskipun kelenjar air mata sudah meronta-ronta, keluarga gue akan berasumsi bahwa tidak ada yang perlu dicemaskan. Entah gengsi atau kurangnya edukasi gue ga ngerti. Gue sebenarnya kesel akan hal itu karena gue yang mungkin paling bisa merasakan apa yang tiap anggota keluarga gue rasakan, ga bisa berbuat apa-apa. Ya. Ketemu jawabannya. Gengsi. Keluarga gue memang mempunyai gengsi yang sangat besar. Di saat gue berperilaku bodo amat dalam batasan wajar, banyak dari mereka yang tidak menerima. Sikap bodo amat inilah yang membuat gue menyingkirkan semuanya. Tapi, gue berpikir, sampai kapan?

Sungguh disayangkan kalau ternyata segala sesuatunya harus disyukuri karena telah dibuat seperti apa yang ada sekarang ini. Saat ini, gue hanya dipertemukan dengan ketidaksiapan gue untuk perubahan. Semua ketakutan yang gue punya seakan-akan menggerogoti kaki-kaki yang mau melangkah maju. Dan memang benar adanya kalau suara yang seharusnya didengar hanya suara Yang Maha Kuasa. Tapi, pernah ga, sih, merasa kalau dunia ini benar-benar memikat umat-Nya untuk selalu menciptakan suara lain? Gue sering sekali mendiagnosa sendiri bahwa gue butuh bantuan dan merasa akan menjadi tidak apa-apa kemudian hari.

Sebelum menutup ini, gue terhibur dengan lirik berikut walau hanya sedikit.
“Bersedihlah secukupnya,
kan masih ada penggantinya,
belum waktunya kau bisa menjawabnya.”

Mungkin hari ini berat dan hanya bisa menimbulkan pengharapan di esok hari. Tapi, sampai kapan?

Stay - i know it’s selfish but it is what it is

I stay home because I have nowhere else to go
I stay quite because I have no one else to speak
I stay to look normal because I have no place to be anywho I am
I stay to think and think because I think I always make mistakes
I stay in my place because I think if I’m moving I will lose something I didn’t have
I stay to be what you want me to be because I can’t even think I can be me to be loved by you

Sepertinya akan berlanjut.

Apapun yang berlanjut pasti selalu berlanjut. Kira-kira apa sih yang berlanjut? Hubungan? Pikiran? Pelajaran? Pengetahuan? Gue rasa itu semua akan terus berlanjut kalo dilanjutin. Yaiyalah kalo berhenti udah pasti ga berlanjut.

Ada waktu dimana gue bertanya-tanya tentang diri gue sendiri. Apakah hubungan gue dengan teman-teman gue akan berlanjut? Apakah gue akan melanjutkan pendidikan gue? Apakah gue akan melanjutkan hubungan gue dengan mantan yang telah terputus? Eits, itu beda cerita.

Gue menyadari, sih, kalo sebenernya temen itu bisa dipilih. Keputusannya ada di tangan gue sendiri yang memutuskan mau berlanjut berteman atau tidak. Beda dengan orang-orang yang datang namun memilih untuk tidak diteruskan menjadi teman. Karena menurut gue orang-orang yang tiba-tiba datang itu tugas Yang Di Atas dan gue hanya bertugas untuk selektif dalam mengambil keputusan untuk menjadikan mereka teman atau tidak. Ada yang menyenangkan, ada yang menyedihkan, ada pula yang mengecewakan. Dan sepertinya akan berlanjut seperti itu.

Gue sebenernya pengen untuk berhenti menambah kenalan ke orang-orang baru. Tapi gue bisa apa? Itu ga mungkin terjadi. Alasan gue punya keinginan seperti ini karena gue merasa terlalu berekspektasi tinggi sama orang-orang yang mungkin gue ga tau kemampuan mereka sebenernya bisa ga sih mencapai ekspektasi gue. Gue aja masih susah mencapai ekspektasi gue sendiri. Mungkin karena gue pendek kali, ya.

Meskipun nyokap ngajarin gue satu hal dimana gue ga boleh sepenuhnya berharap sama orang, tapi gue penasaran aja. Kalo memang orang itu memiliki kemampuan, kenapa ga bisa, gitu? Ya, gue ga menentang apa kata nyokap, sih. Hehe

Tapi gue pernah punya pengalaman dimana gue kasih suatu barang ke temen gue yang gue harap dia bisa pake barang itu sebaik-baiknya tapi malah berujung barang itu rusak dan terbengkalai. Kaya hati gue, terbengkalai. Ciat.
Sedih, sih. Entah kenapa gue ga bisa marah. Mungkin udah di tahap kecewa dan ya… gue harus gimana lagi? Karena dia teman gue, gue memutuskan untuk tetap menjalin hubungan pertemanan, dan ya gue cuma bisa merasakannya aja.

Untuk kekecewaan yang pernah gue rasain bukan hanya dari teman aja. Banyak calon-calon pacar gue yang ga jadi karena gue merasa kecewa. Kecewa ternyata ada sikapnya si a yang baru gue ketahui. Kecewa ternyata si b ga bisa ngikutin seriusnya gue. Yaelah kaya banyak aja yang deketin. Haha. Ga banyak sih, tapi ya, gitudeh. PADA UMUMNYA. Nih, ya, gue tekankan. Gue juga sebenernya belum menemukan titik permasalahannya. Apakah gue yang terlalu tinggi dalam melihat pria? Atau memang cowoknya aja yang ga bener.

Kadang keluarga atau bahkan orang tua gue juga ngecewain gue, kok. Misalnya, saat gue sampai rumah selepas ngampus dan berharap disambut atau setidaknya dihibur tapi malah berujung kacau atau keadaan di rumah juga sedang tidak mendukung.

Sebenernya masih banyak lagi, sih, hal-hal yang bikin gue kecewa, sedih, senang dan lain-lain. Terlepas kekecewaan itu semua, dari pandangan gue ga sepenuhnya kejadian-kejadian di atas itu kesalahan mereka. Di saat banyak kecewanya seperti ini, gue memang banyak evaluasi. Mungkin gue terlalu menginginkan mereka melakukan suatu aksi tapi gue tidak memberi kunci pada mereka dan jadilah miss-komunikasi.

Gue juga ga bilang kalo kecewa sama satu orang, tuh, cuma sekali aja. Wow, itu tidak mungkin. Banyak sumber kecewa dari mana dan siapa saja. Siapapun yang jadi sumber kekecewaan, menurut gue itu jadi suatu pilihan apakah gue akan tetap menjalin hubungan atau tidak karena dikecewakan. Jika gue memilih untuk tetap menjalin, gue cuma bisa menerima dan memaafkan tindakan mereka. Jika gue memilih untuk berhenti, di situlah saatnya gue harus meninggalkan. Dan sepertinya akan berlanjut selama gue hidup.

Terakhir, nih?

Seperti pada judulnya, gue sedang berada di tingkat akhir masa-masa perkuliahan yang gue semogakan untuk bener-bener jadi yang terakhir.

Semakin gue pikir-pikir, nanti kalo tahap terakhir ini gabisa gue jalanin dengan baik akan berdampak apa ya? kalo di tengah jalan gue menyerah, apa kata orang tua gue? dan kalo paitnya tahap ini gue akhiri, akan ada apa selanjutnya?

Semua pertanyaan itu gapernah gue dapetin jawaban yang puas sampe detik ini. Dengan ini gue berinisiatif untuk nulis semua keluh kesah gue di sini. Yaelah klasih banget ya kaya anak-anak jaman sekolah pake diary. Tapi sebelumnya jangan kecewa dulu. Rencana gue di sini bukan untuk curhat letih lesu lunglai dan sebagainya. Di sini gue mau menjadikan tempat ini sebagai tempat berlatih menulis. Biar bisa nulis yang santai tapi tetap di dalam kajian EYD. Tau EYD, ga?

Pokoknya kalo gue sih ngebayangin nulisnya kaya Raditya Dika gitu yang santai tapi serius tapi ga terlalu serius juga cuma ya namanya hidup kalo ga diseriusin pasti dibercandain. Hehe

Sebenernya udah hobi nulis sih dari masih di seragam putih merah. Selalu nulis di kertas kosong yang semua notebook bekas seminaran kantor bokap gue pasti ada “Dear Diary, Salam, Lala.”. Kejadian itu agak canggung saat bokap nemuin satu note nya dia tergeletak di atas meja. Beliau mau ketawa tapi mungkin ditahan buat ngehargain tulisan gue mungkin. Entah kenapa nulis tuh enak. Kaya ada yang baca dan secarik kertas tuh mengerti banget isi tulisan gue meskipun waktu SD isinya cuma “ya taulah ya”. Apa yang bisa dimengerti oleh secarik kertas? Mikir hal itu sekarang jadi miris. Haha
Kebetulan juga akun tumblr gue udah lama dibuat dari jaman searagam putih biru. Internet addict since day one, yo! Gue ngikutin kakak gue sejak itu. Dia main twitter, gue ikut. Setelah berpindah tempat dari notebook-notebook sisaan seminar bokap akhirnya gue coba melantunkan pukulan kecil di setiap keypad yang ada di keyboard, gue suka banget sama sensasinya. Ga tau kenapa ya ga bisa dijelasin. Mungkin bisa dibayangin kalo gue bilang gue suka ngetik karena keliatannya sibuk banget padahal yang gue ketik ya ini, kosong. Anyway, gue gatau akan sampai berapa lama bertahan nulis sesuatu yang serius tapi santai ini. Laptop yang gue gunakan saat ini bahkan bukan milik gue. Dan orang yang gue suka aja bukan milik gue. Lho.

Back to the topic. Tahun terakhir kuliah berarti skripsi dong? Well, skripsi atau tidaknya gue masih belom tau. Di kampus gue tersedia dua jalur, yaitu skripsi dan non-skripsi. Jujur gue agak kurang pede untuk mengambil jalur skripsi. Soalnya yang gue tau, kalo skripsi itu datanya harus banyak dan gue pesimis data yang masih gue kumpulin ini jumlahnya akan kurang dari persyaratan. Kalo untuk jalur non-skripsi di kampus gue pada waktu sekarang agak berbeda dibanding satu tahun yang lalu. Satu tahun yang lalu itu, non-skripsi hanya diberi materi sesuai jurusan dan harus dipelajari selama kurang lebih seminggu, setelah itu langsung sidang tanpa nulis laporan. Enak, sih. Tapi saat itu tetap ada yang ambil skripsi. Malahan wejangan mereka ke angkatan gue itu adalah kalo gue harus ambil skripsi. Jadi, setelah mengajukan proposal skripsi gue, gue cuma bisa berserah dengan keputusan sang dosen.

Sedih? Oh, tentu tidak. Saat mengerjakan Seminar Proposal ini, gue menemukan banyak kemampuan yang gapernah gue duga sebelumnya. Gue sadar gue jadi lebih sering begadang. Lho, jangan salah, biasanya mata ini tuh ga kuat kalo begadang. Tapi saat proses mengerjakan, gue bisa menyelesaikan 2 film berturut-turut dan tetap bangun pagi karena harus lanjut ngampus. Gue juga baru sadar kalo kemampuan gue dalam membuat kopi bertambah. Setiap mau lanjut revisian Seminar Proposal, gue pasti selalu membuat kopi. Karena hal itu sering gue lakukan, gue selalu beranggapan setiap gelasan kopi yang gue buat adalah evaluasi dan referensi untuk segelas kopi berikutnya. Malam pertama bikin dengan ramuan a, ternyata kurang. Malam berikutnya dengan ramuan b, sudah lumayan. Begitu terus berlanjut sampai gue merasa kopi yang gue buat sekarang ini perfect dan perbandingannya signifikan. Kenapa gue pede bisa bilang begini karena waktu gue dan temen-temen gue ke salah satu tempat ngopi di deket kampus, kebetulan gue lagi bawa kopi sendiri dari rumah. Gue ga mesen di kafe itu, gue hanya melihat temen gue yang memesan. Karena gue merasa pede dengan kopi gue, gue icip dari kopi temen gue itu. Rasanya mirip, mirip yang hampir sama gitu, deh. Di situ gue merasa bangga. Di situ gue merasa gue naikkin dagu terlalu tinggi soalnya sehabis dari situ leher gue pegel.

Coba aja bayangin, kalo gue ga ada tugas Seminar Proposal ini gue ga akan bisa tuh yang namanya bikin kopi ataupun tahan nonton marathon pas subuh. Meskipun saat itu gue males banget dan belom selesaiin revisian, tapi demi kelangsungan hidup perkuliahan ini gue harus selesaiin dan mempertanggungjawabkannya. Banyak yang bilang kalo kuliah harus dinikmati setiap proses dan tahap yang ada di dalamnya. Gue merasa kalo kemampuan yang baru gue dapetin ini membuka mata gue sih. Memang perlu untuk fokus dalam hal satu hal yang penting, tapi ga ada salahnya untuk asah hal yang lain. Mana tau ada pelajaran yang bisa dimasukkan ke dalam hal yang harus difokuskan tersebut.

“Here I am, a bundle of past recollections and future dreams, knotted up in a reasonably attractive bundle of flesh. I remember what this flesh has gone through; I dream of what it may go through.”

— Sylvia Plath, The Unabridged Journals of Sylvia Plath

(via sylviaplathquotes)